Berkali juga berfikir.
Bukan dua kali, tidak juga 3 kali. Berpuluh kali pun tidak.
Fikir yang ini makan hampir 8 tahun lamanya.
Menulis itu untuk apa? Untuk kepuasan atau hanya ikut-ikutan? Mereka menulis, engkau juga kepingin.
Tulisan mereka mencerah, tulisan engkau membawa padah. Apa engkau fikir, amalan engkau akan dipermudah? Memang diamnya lidah, tidak memungkinkan engkau tidak jauh dari memfitnah.
Lalu, untuk apa menulis? Dan tulisanmu untuk diapakan?
Meneliti ini seketika, Tuhanku dan Tuhanmu berkata;
"Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk) (1). Dia menciptakan manusia dari sebuku darah beku, (2). Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, (3). Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, (4). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)".
-Al-'Alaq;1-5-
Juga saya merenung;
"Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tulis"
-Al-Qalam; 1-
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang piutang yang diberi tempoh hingga ke suatu masa yang tertentu, maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa bayarannya) itu dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menulisnya dengan adil (benar) dan janganlah seseorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah mengajarkannya ... "
-Al Baqarah; 282-
Saya berfikir pada ketentuan pembacaan, ia melalui penulisan. Namun, penulisan juga lahir dari pembacaan yang mendalam. Maka, keduanya saling bergantung dengan adab fikir dan zikir, dan firman Tuhan yang awal mengajak Muhammad (s.a.w) merenung ma'na iqra'.
Begitulah berlakunya.
Kisah bagaimana saya bangun pada subuh hari dan mula menulis!
:: Nurul Nadia Abdul Rashid
Catatan Penulisan
8 Syawal 1435H
Bersamaan 4 Ogos 2014
